Selasa, 09 September 2008

Menuju kota idaman Bogor


Menengok 49 tahun perjalanan ini rasanya nggak cukup kalau di tulis dalam lembaran maya seperti ini, tapi perjalanan itu adalah sebuah"proses" yang mau tidak mau adalah sebuah cacatan sejarah yang tidak pernah dan akan pernah bisa dihilangkan.

Masa kecil saya habiskan di kampung dengan kawan sepermainan, kawan sekolah sejak SD hingga SMP saya habiskan di Blitar kota kelahiranku, bermain layang-layang, menangkap burung, ikut menggembala kerbau, mandi di sungai dan mencuri buah-buahan milik nenek adalah permainan yang tak pernah aku lewatkan. Dimalam hari selain kegiatan rutin mengaji di langgar terdekat, serta belajar bersama maka jika malam terang bulan biasakan kami habiskan dengan bermain khas anak-anak waktu itu "jamuran - bentengan" atau sekenar iseng menakut-nakiti anak-anak perempuan yang baru pulang mengaji dengan main "pocong-pocongan", maklumlah waktu itu belum ada aliran listrik yang masuk di kawasan kampungku.

Tahun 66 ketika gudung Kelud meletus maka kami sekeluarga juga mengungsi di bukit terdekat Gunung Pegat. Suasna pengunsian kala itu jauh dari kengerian maklumlah usiaku baru meginjang 7 tahun dan belum tahu apa itu mengungsi, yang ada waktu itu bermain dan senang karena sekolah jadi libur.


Setelah menyelesikan pendidikkan sampai SMP di Blitar, saya hijrah ke Bogor sebuah kota yang banyak memberikan warna dalam perjalanan hidup saya, sampai akhirnya menemukan pasangan hidup saya, yang hingga saat ini membuahkan putra putri saya - Maroza Sulaiman sekarang kelas II SMP, dan Thahira Siti Nursahaliha yang sekarang baru masuk TK-A. ( secara terpisah akan saya kisahkan tersendiri ).

Bogor sebagai kota yang mendapat julukan kota hujan memberikan wahana baru dari hidup saya dibandingkan kota Blitar, sekolah di sebuah SMA Katholik berada di depan Istana Negara Bogor merupakan sebuah kebanggan sekaligus tantangan - siapa orang nggak kenal dengan Regina Pacis - yang konon telah banyak menghasilkan lulusan yang menduduki posisi penting di berbagai instansi pemerintah maupun swasta, Alhamdulillah saya mampu menyelesaikan pendidikan SMA tanpa harus menunggak atau tinggal kelas, walaupun di kelas SOSIAL, dengan nilai yang tidak terlalu bagus alias pas-pasan. - setidaknya aku boleh menyandang alumni Regina Pacis Bogor - angkatan 1977.

Selamat Pagi Indonesia


49 tahun yang lalu Allah SWT, memberikan sebuah kesempatan pada seorang bayi yang terlahir persisnya pagi hari antara pukul 05:30, itupun kata kedua orang tuaku setelah Aku berusia 10 tahun, di beranda depan rumah yang halamannya tumbuh beberapa pohon buah-buahan, diantaranya pohon nangka, durian, rambutan, alpokat dan pohon salam. Masih teringat kala itu Aku bertanya kapan dilahirkan, Emak panggilan ibuku dengan sabar menceritakan bagaimana proses kelahiranku " gini lho kamu itu sebenarnya hampir saja tidak bisa lahir di dunia ini, karena selama Emak hamil itu, Emak harus berbaring terus dalam tempat tidur hampir sembilan bulan lamanya, ... dan karena kehendak Yang Maha Agung, maka kamu bisa dilahirkan dengan selamat, .. walaupun waktu kamu lahir hanya sebesar botol bir" itu kalimat yang sering aku dengar, bahkan tidak hanya dari Emakku tetapi dari kakak-kakaku dan Bapakku, semua membenarkan statement Emak.


Tanggal 19 september 1959, saya di lahirkan di Kota Blitar - Jawa Timur dan pada tanggal itulah saya untuk pertama kalinya menghirup udara Indonesia tercinta ini. Lahir dari keluarga sederhana dan menjadi anak kesembilan atau anak terakhir dari pasangan Ismail dan Djawijah adalah sebuah kebanggaan bagi saya, yang akhirnya anak yang sebesar botol bir kala itu kini menjadi orang "besar" dengan nama Herru Soleh yang kini bekerja di Suara Surabaya Media, sebuah industri penyiaran yang cukup dikenal di Surabaya, Indonesia, dan bahkan beberapa belahan dunia.


Sekali lagi "SELAMAT PAGI INDONESIA dan SELAMAT PAGI DUNIA"