Menengok 49 tahun perjalanan ini rasanya nggak cukup kalau di tulis dalam lembaran maya seperti ini, tapi perjalanan itu adalah sebuah"proses" yang mau tidak mau adalah sebuah cacatan sejarah yang tidak pernah dan akan pernah bisa dihilangkan.
Masa kecil saya habiskan di kampung dengan kawan sepermainan, kawan sekolah sejak SD hingga SMP saya habiskan di Blitar kota kelahiranku, bermain layang-layang, menangkap burung, ikut menggembala kerbau, mandi di sungai dan mencuri buah-buahan milik nenek adalah permainan yang tak pernah aku lewatkan. Dimalam hari selain kegiatan rutin mengaji di langgar terdekat, serta belajar bersama maka jika malam terang bulan biasakan kami habiskan dengan bermain khas anak-anak waktu itu "jamuran - bentengan" atau sekenar iseng menakut-nakiti anak-anak perempuan yang baru pulang mengaji dengan main "pocong-pocongan", maklumlah waktu itu belum ada aliran listrik yang masuk di kawasan kampungku.
Tahun 66 ketika gudung Kelud meletus maka kami sekeluarga juga mengungsi di bukit terdekat Gunung Pegat. Suasna pengunsian kala itu jauh dari kengerian maklumlah usiaku baru meginjang 7 tahun dan belum tahu apa itu mengungsi, yang ada waktu itu bermain dan senang karena sekolah jadi libur.
Setelah menyelesikan pendidikkan sampai SMP di Blitar, saya hijrah ke Bogor sebuah kota yang banyak memberikan warna dalam perjalanan hidup saya, sampai akhirnya menemukan pasangan hidup saya, yang hingga saat ini membuahkan putra putri saya - Maroza Sulaiman sekarang kelas II SMP, dan Thahira Siti Nursahaliha yang sekarang baru masuk TK-A. ( secara terpisah akan saya kisahkan tersendiri ).
Bogor sebagai kota yang mendapat julukan kota hujan memberikan wahana baru dari hidup saya dibandingkan kota Blitar, sekolah di sebuah SMA Katholik berada di depan Istana Negara Bogor merupakan sebuah kebanggan sekaligus tantangan - siapa orang nggak kenal dengan Regina Pacis - yang konon telah banyak menghasilkan lulusan yang menduduki posisi penting di berbagai instansi pemerintah maupun swasta, Alhamdulillah saya mampu menyelesaikan pendidikan SMA tanpa harus menunggak atau tinggal kelas, walaupun di kelas SOSIAL, dengan nilai yang tidak terlalu bagus alias pas-pasan. - setidaknya aku boleh menyandang alumni Regina Pacis Bogor - angkatan 1977.